KNTV NEWS INDONESIA, BELU || Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian memberikan apresiasi tinggi terhadap kelestarian adat dan budaya di Desa Adat Matabesi, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dalam kunjungan kerjanya pada Jumat (03/7/2026), Tito mendorong kawasan bersejarah yang masih terjaga keasriannya tersebut agar dikembangkan sebagai warisan budaya sekaligus destinasi wisata unggulan nusantara.
Di tengah gempuran arus modernisasi, keberadaan Desa Adat Matabesi dinilai sebagai sebuah permata budaya yang langka. Mendagri menuturkan bahwa pesona kawasan ini mengingatkannya pada Desa Wae Rebo yang juga berada di NTT. Namun, Matabesi memiliki daya tarik historis tersendiri dan keunggulan aksesibilitas yang jauh lebih ramah bagi wisatawan.

“Kali ini saya lihat ada sesuatu yang lain di sini. Jadi mirip-mirip dengan Wae Rebo, tapi punya kekhasan sendiri, sejarah sendiri. Kalau di sana (Wae Rebo) harus jalan dua jam katanya, di sini naik mobil langsung jadi. Artinya kemudahan untuk turis lebih mudah” ungkap Tito di sela-sela kunjungannya.
Menggali Sejarah Melalui Museum Fohorai
Kekayaan budaya Desa Adat Matabesi tercermin dari bangunan rumah adat yang diperkirakan telah bertahan ratusan hingga ribuan tahun, serta dikelilingi oleh pepohonan berusia tua. Menurut Mendagri, sejarah panjang ini akan menjadi daya tarik yang bernilai tinggi apabila terus digali dan didokumentasikan dengan baik.
Sebagai wujud nyata pelestarian, Mendagri turut meninjau progres pembangunan Museum Fohorai yang berlokasi di area desa tersebut. Ia menyarankan agar museum masa depan itu diperkaya dengan koleksi yang komprehensif. Tidak sebatas memamerkan kain tenun, namun juga menampilkan rekam jejak kehidupan masyarakat adat seperti tradisi, sistem pertanian, peternakan, hingga tata cara pengolahan kemiri.
Belajar dari Pengalaman Modernisasi Hawaii
Dalam kesempatan yang sama, Mendagri merefleksikan pengalamannya saat berkunjung ke Hawaii sebagai sebuah peringatan. Di masa lampau, Hawaii memiliki desa-desa adat yang otentik. Namun akibat modernisasi besar-besaran, jejak budaya asli masyarakatnya kini lebih banyak tersingkir dan hanya dijadikan komoditas pertunjukan di hotel-hotel mewah bergedung tinggi.

“Kita tetap melakukan modernisasi di titik tertentu, tapi di bagian tertentu harus kita jaga seperti ini. Supaya menjadi objek wisata dan juga monumen bersejarah yang berguna untuk anak cucu kita, biar dia tahu di mana akar ( grassroot )-nya” tegas Mendagri mengingatkan pentingnya menjaga esensi budaya di tengah kemajuan zaman.
Tito secara khusus memuji komitmen Bupati Belu, Willybrodus Lay, serta para tetua dan masyarakat adat yang berdedikasi merawat warisan leluhur. Menurutnya, merawat peninggalan masa lalu di era modern membutuhkan kepekaan dan tekad ( passion ) yang luar biasa.
Agenda kunjungan kultural yang sarat makna ini turut dihadiri oleh jajaran pejabat penting, di antaranya Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, Ketua Umum Tim Penggerak PKK Pusat Tri Tito Karnavian, segenap pengurus TP PKK Provinsi NTT dan Kabupaten Belu, serta jajaran kepala suku dan masyarakat adat Matabesi setempat.
Biro Pers Kementrian RI
NW90




















