KNTV NEWS INDONESIA, Boyolali || Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi meninjau operasional Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Kabupaten Semarang dan Kabupaten Boyolali, Selasa (20/10/2026). Kunjungan itu bertujuan memastikan koperasi berjalan optimal dan memberi manfaat bagi masyarakat, sekaligus mendukung penguatan ekonomi lokal serta ketahanan pangan.
Dua koperasi yang dikunjungi adalah KDMP Bergas Kidul di Kabupaten Semarang dan KDMP Banyudono di Kabupaten Boyolali. Dalam kunjungan tersebut, Ahmad Luthfi meminta pengelola meningkatkan sosialisasi agar masyarakat mengetahui keberadaan koperasi dan memanfaatkannya.
Menurut Ahmad Luthfi, KDMP merupakan aset desa yang harus dikelola dan dikembangkan bersama. Koperasi diharapkan menyediakan kebutuhan pokok dengan harga terjangkau serta menjadi sarana pemasaran produk lokal dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“KDMP adalah aset desa, jadi harus dirawat. Masyarakat harus diberi tahu kalau sudah operasional. Informasikan bahwa koperasi ini untuk kepentingan desa, termasuk menyediakan bahan pokok penting dengan harga murah” ujar Ahmad Luthfi seusai meninjau kedua lokasi.
KDMP Didorong Menyerap Produk Lokal
Ahmad Luthfi mengatakan, koperasi desa tidak hanya berfungsi sebagai tempat transaksi kebutuhan sehari-hari. KDMP juga diharapkan menjadi penghubung antara produsen lokal dan pasar.
Sebagai off-taker atau pembeli hasil produksi, koperasi dapat membantu menyerap produk pertanian, pangan, dan UMKM setempat. Peran tersebut dinilai dapat meningkatkan nilai tambah serta mengembangkan potensi ekonomi desa.
Ia menekankan bahwa setiap desa memiliki karakteristik, potensi, dan kearifan lokal yang berbeda. Karena itu, pengelola koperasi perlu mengidentifikasi serta mengembangkan produk unggulan sesuai dengan kondisi wilayah masing-masing.
“Potensi desa harus digalang. KDMP merupakan off-taker dari produk-produk desa, termasuk hasil pangan dan UMKM,” katanya.
Ahmad Luthfi juga meminta koperasi yang telah beroperasi menjadi tempat belajar bagi pengurus dan manajer KDMP yang masih dalam tahap persiapan. Materi pembelajaran meliputi tata kelola, sistem operasional, pengelolaan gerai, serta kerja sama dengan UMKM melalui sistem konsinyasi.

“Manajer-manajer dan pengurus yang KDMP-nya belum beroperasi bisa belajar ke sini yang sudah operasional. Jangan sampai yang belum beroperasi manajernya menganggur” ujarnya.
Sebanyak 5.427 Koperasi Telah Beroperasi
Berdasarkan data Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Tengah per 19 Oktober 2026, sebanyak 8.523 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) telah terbentuk di Jawa Tengah.
Dari jumlah tersebut, 5.427 koperasi atau sekitar 63 persen telah beroperasi. Sebanyak 3.096 koperasi lainnya atau sekitar 37 persen masih dalam tahap persiapan. Sementara itu, jumlah gedung KDKMP yang telah terbangun mencapai 5.895 unit.
Dari sisi pengembangan usaha, sebanyak 4.432 KDKMP memiliki satu gerai, 749 koperasi memiliki dua gerai, 175 koperasi memiliki tiga gerai, 28 koperasi memiliki empat gerai, dan 39 koperasi memiliki lima gerai. Selain itu, tiga KDKMP memiliki enam gerai dan satu KDKMP memiliki tujuh gerai.
Data tersebut menunjukkan bahwa pengembangan koperasi di Jawa Tengah masih berlangsung bertahap, baik dalam operasional maupun penyediaan sarana pendukung.
Infrastruktur Masih Menjadi Kendala
Ahmad Luthfi mengakui sejumlah koperasi belum beroperasi karena menghadapi berbagai kendala. Hambatan itu meliputi keterbatasan infrastruktur, sarana dan prasarana yang belum lengkap, pasokan listrik yang belum memadai, ketiadaan kendaraan operasional, serta barang dagangan yang belum tersedia.
Peninjauan lapangan dilakukan untuk mengidentifikasi kekurangan dan menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah serta pihak terkait dalam mempercepat kesiapan koperasi.
“Memang harus berjenjang dan berkelanjutan. Kami melakukan pengecekan agar bisa mengevaluasi apa saja yang masih kurang” jelasnya.
Hasil evaluasi diharapkan membantu pengelola menentukan kebutuhan prioritas sehingga koperasi yang belum beroperasi dapat segera mempersiapkan diri sesuai kondisi masing-masing.
Warga Berharap Harga Kebutuhan Pokok Terjangkau
Warga Banyudono, Sri Mulyani, menyambut positif keberadaan KDMP di wilayahnya. Ia memilih berbelanja di koperasi tersebut karena harga sejumlah kebutuhan pokok dinilai lebih murah dan lokasinya dekat dari rumah.
Ia mencontohkan harga minyak goreng yang menurut pengalamannya mencapai sekitar Rp22.000 di pasaran, sedangkan di KDMP Banyudono dijual seharga Rp16.000.
“Harapannya, dengan adanya KDMP ini, apa saja murah sehingga kebutuhan di rumah dapat terpenuhi” ujarnya.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mendorong agar pengembangan KDMP tidak berhenti pada pembangunan gedung dan pembukaan gerai. Pengelola juga perlu memastikan tata kelola berjalan baik, barang tersedia, kemitraan dengan pelaku usaha lokal terbangun, dan koperasi dimanfaatkan masyarakat.
Dengan pengelolaan berkelanjutan, KDMP diharapkan dapat memperkuat rantai pasok pangan, memperluas pasar produk UMKM, dan mendorong perputaran ekonomi di tingkat desa maupun kelurahan.
Humas Pemerintah Provinsi Jawa Tengah
KNTV NEWS INDONESIA — Berita Aktual, Faktual, dan Berimbang





















